Purnama tidak hanya menggelisahkan serigala jadi-jadian, tapi juga penduduk nelayan di Cilincing, suatu daerah di pesisir Jakarta Utara. Karena pada setiap Purnama, air laut yang pasang membanjiri bilik tempat tinggal mereka. Gambaran kemiskinan penduduk yang kumuh dan segala macam penderitaannya dikemas dengan visual yang puitik dalam Purnama di Pesisir oleh sang sutradara, Chairun Nissa.

Nirma (Desca Intan) seorang gadis perempuan yang kurus, dekil dan tak terurus, terus memeluk bonekanya yang usang yang ia temukan di antara sampah di pinggir pantai. Tatapan matanya kosong, sementara di kejauhan, nampak Mus (Ence Bagus) yang merobohkan bilik-bilik tetangganya. Tinggal bilik Nirma yang belum dihancurkan karena Mus menunggu Malik, ayah Nirma yang tak kunjung tampak batang hidungnya. Di sini Mus menyimpan kegelisahannya sendiri. Dilema antara tidak ingin merobohkan rumah Nirma secara paksa, bertempur dengan godaan segepok uang di tangan yang disimpannya untuk Malik.

Film ini sarat dengan simbol-simbol yang dipilihnya. Gambaran tiga kakak-beradik Tionghoa dengan abu sang ayah dalam guci keramik, membawa memori kita akan korban kerusuhan di negeri ini. Sampah-sampah yang menyangkut di jaring ikan, kita bisa melihatnya sebagai simbolis ikan yang diganti tumpukan sampah. Lalu bendera merah-putih yang koyak, sudah jelas sindiran atas pemerintah yang tak peduli pada warganegaranya. Simbol-simbol dalam film ini bercerita tentang kehilangan. Kehilangan tempat berlindung, kehilangan ayah dan keluarga, kehilangan harapan dan hilangnya kepercayaan akan negara. Kesemua kehilangan ini menjadi sebuah lingkaran utuh bak bulan purnama yang hanya indah dilihat dari kejauhan tapi di balik keindahannya ada bencana bagi sebagian orang. Film pendek yang berdurasi 16 menit ini sebetulnya cerewet mengisahkan banyak hal.

Film ini sangat minim dialog. Narasi sebagai benang merah cerita memanfaatkan suara penyiar di Radio Komunitas Para Nelayan. Di sini narasi terasa tak klop dengan keseluruhan simbol tadi. Karena jika film ini bercerita melalui simbol, keberadaan narasi sebenarnya bisa ditiadakan. Hal lain yang menyulitkan dari film ini ialah membangun karakter yang kuat. Secara gesture tubuh para tokoh dituntut mampu berbicara banyak dengan segala bahasa tubuhnya. Akting pun harus muncul sewajar mungkin bukan sebuah akting yang teatrikal. Meski tokoh Nirma tak perlu menitikan air mata untuk menunjukkan kesedihannya, dia tetap harus mampu memunculkan kesedihan dari tatapan matanya itu, meyakinkan penonton sehingga rasa sedih itu bisa dirasakan.

Saya adalah orang yang percaya bahwa kehidupan ini tak hanya terdiri dari sederet catatan kehilangan, melainkan juga ada kisah penemuan. Meski Purnama di Pesisir berbicara banyak akan kehilangan, tapi film ini pun mengisahkan sebuah penemuan: seorang sutradara muda yang menjanjikan.*

 

Purnama di Pesisir

Produser: Laili Handayani

Sutradara: Chairun Nissa

Penata Artistik: Maria Nunik

Penulis Skenario: Damas Cendekia

Penata Kamera: Anggi Frisca

Produksi: Institut Kesenian Jakarta, 2009

Pemutaran dan Penghargaan:

-Festival Film Indonesia, 2010

– Rotterdam International Film Festival, 2010

– V Film Festival, Indonesia, 2010

– Special Jury Mention Award, Roma Independent Film Festival, 2010

– Short Competition, Balinale International Film Festival, 2010