Film Jagal (The Act of Killing) sebagaimana telah diduga oleh banyak kalangan, mengalami kesulitan untuk ditonton secara terbuka oleh publik Indonesia. Film yang mengajukan bukti-bukti kejahatan kemanusiaan ini diincar oleh para pihak yang tersangkut di dalamnya.

Faktor keamanan, tak pelak, menjadi persoalan utama. Para pembuat film Jagal dan keluarganya mendapat teror, jurnalis yang mengangkat fakta-fakta di film ini pun diserang. Faktor ini pula yang membuat para eksebitor di tanah air berpikir ulang memutarnya untuk publik secara luas. Tentu, masyarakat sangat dirugikan karena film ini adalah satu catatan sejarah yang menjadi hak mereka untuk tahu.

Melalui email, Bayu Bergas dari Komunitasfilm.org mengajukan beberapa pertanyaan pada Joshua Oppenheimer, Sutradara Jagal yang berada di Denmark, terkait dengan peredaran film ini di Indonesia.

 

Bayu: Banyak publik merasa kesulitan untuk mengakses dan menonton filmmu. Bagaimana sebenarnya skema distribusi film ini di Indonesia?

Joshua: Rencana distribusi di Indonesia dibangun dari cita-cita: sebanyak-banyaknya orang Indonesia menonton dengan seaman mungkin. Ada dua titik ekstrem yang kami hadapi, satu menjangkau publik seluas-luasnya, tetapi di sisi lain menghindari potensi gangguan semaksimal mungkin. Itu sebabnya sejauh ini kami hanya bisa mengadakan pemutaran tertutup untuk undangan terbatas. Pada kesempatan ini kami juga mohon maaf kepada banyak peminat di sana yang belum berkesempatan menyaksikan film ini. Tapi, percayalah, bahwa kami bekerja sangat keras untuk mendekati para penonton yang sudah lama menanti dan sangat ingin menyaksikan film ini. Mohon bersabar. Bukannya kami tidak beranjak mendekati atau malah menghindari penonton, tapi kami masih cari-cari jalan yang aman menghindari ‘ranjau’ yang bertebaran di sana-sini. Kami hanya takut salah satu ‘ranjau’ meledak, lalu penonton lain tiarap semua.

Walaupun begitu, pemutaran dan distribusi film ini juga lebih banyak mengandalkan inisiatif masyarakat. Saya sangat berharap bahwa film ini dapat diputar terbuka dan ditonton tanpa rasa takut sambil makan berondong jagung di bioskop. Tapi untuk bisa sampai ke situ perlu banyak perubahan yang harus terjadi dulu di Indonesia. Misalnya saja, standar Lembaga Sensor Film berubah dan tak lagi dipengaruhi faktor politik penguasa. Atau sekalian saja Lembaga Sensor Film itu dibubarkan, bayangkan hari ini masih ada lembaga negara yang bertugas menyensor pikiran dan imajinasi rakyatnya sendiri.

“Saya sangat berharap bahwa film ini dapat diputar terbuka dan ditonton tanpa rasa takut sambil makan berondong jagung di bioskop. Tapi untuk bisa sampai ke situ perlu banyak perubahan yang harus terjadi dulu di Indonesia.”

Baru 2 hari yang lalu Jaksa Agung (10 November – red) mengatakan bahwa tidak ditemukan cukup bukti yang menunjukkan pembantai ‘komunis’ adalah sebuah pelanggaran HAM berat. Ini sungguh aneh, bagaimana mungkin sesuatu yang dimulai dengan kata “pembantaian” bisa diberi predikat dengan “bukan pelanggaran HAM” dalam satu kalimat. Kalau pemikiran jungkir-balik seperti ini masih dominan, dan parahnya, dominan di kalangan penguasa, apa boleh buat, sekadar memutar dan menonton film sekalipun harus jadi sebuah aksi heroik.

Kita tahu bahwa pihak yang tak segan menggunakan kekerasan sekadar untuk menghentikan persebaran dan pemutaran film Jagal ini. Mereka, seperti di tahun 1965-1966 menggunakan kekerasan sebagai sarana teror agar minat orang terhadap film ini turun. Kalau “pembantaian” masih bukan “pelanggaran HAM”, kalau kekerasan masih marak sebagai bahasa politik, kalau sekadar sebuah film ditonton dengan rasa was-was, tidak heran kalau sampai muncul pertanyaan, “Siapa menjamin keamanan penonton film?”

 

Bayu: Beberapa pihak di Indonesia membicarakan faktor keamanan memutar Jagal, termasuk beberapa festival, padahal mereka sangat ingin memasukkan Jagal dalam program mereka agar ditonton oleh publik secara luas. Di sini tak ada jaminan dari siapapun, bahkan dari pihak-pihak yang seharusnya memberikan jaminan.

Joshua: Ada dua pihak terkait dalam membicarakan film Jagal: yang mewakili film, yakni penyelenggara pemutaran/distributor/pembuat film/produser, dan penontonnya.

Sebagai pembuat film, saya bisa katakan bahwa film ini aman ditonton orang dewasa, atau 18 tahun ke atas. Sebagai pembuat film, saya bisa jamin bahwa film ini untuk orang Indonesia gratis.

Nah, sekarang sebagai penonton, jika mereka menonton filmnya, atau panitia sebagai penyelenggara festival yang memutar film, siapa yang menjamin keamanan mereka?

Saya tidak tahu, tapi di negara lain, biasanya yang menjamin keamanan adalah angkatan bersenjata yang menjaga negara dari serangan negara lain dan polisi mencegah terjadinya gangguan ketertiban serta perbuatan kriminal lainnya.

Kalau pertanyaannya adalah, mengapa tentara atau polisi Indonesia malah membuat rakyat merasa tidak aman, saya kira sebagai orang Indonesia, anda semua lebih tahu kenapa, dan juga lebih tahu apa yang harus dilakukan. Saya hanyalah seorang pembuat film yang bisa mengajukan pertanyaan, sementara jawaban seharusnya dicari sendiri oleh penontonnya, baik yang di Indonesia atau yang di negeri lain.

“Saya sadar adalah sebuah jalan yang teramat sangat panjang, berliku, dan berat untuk membuat perubahan di Indonesia. Sebuah film, sendirian, tidak bisa menciptakan perubahan. Tapi penonton bisa. Orang-orang bisa.”

Jika yang dimaksud lebih aman, dalam arti menjadi legal jika film ini telah dinyatakan lulus sensor oleh LSF, siapa yang menjamin? Apakah LSF pernah sanggup menjamin keamanan? Apakah ada satu badan pun di Indonesia yang sanggup menjamin keamanan? Menimbulkan rasa aman di Indonesia? Ketika impunitas menggejala? Ketika para pembantai dianggap sebagai pahlawan. Ketika setelah membaca laporan setebal 800 halaman, Jaksa Agung mengatakan “Tidak ditemukan cukup bukti.”

Kita lihat kasus pemukulan dan kekerasan terhadap pimpinan redaksi koran Radar Bogor, siapa yang menjamin keamanan wartawan yang menulis berita? Semuanya legal. Koran itu terbit dan beredar sesuai undang-undang. Tak ada hukum yang dilanggar. Siapa menjamin bahwa orang yang taat hukum tidak akan dipukuli? Siapa yang menjamin bahwa semua pelanggar hukum akan dihukum? Sungguh sebuah tanggungjawab yang amat berat jika itu harus dipikul oleh seorang sutradara atau pihak pembuat film, sungguhpun saya bisa menjamin bahwa tidak ada satu hukum pun yang kami langgar dalam proses pembuatan film selama tujuh tahun ini.

Saya sadar adalah sebuah jalan yang teramat sangat panjang, berliku, dan berat untuk membuat perubahan di Indonesia. Sebuah film, sendirian, tidak bisa menciptakan perubahan. Tapi penonton bisa. Orang-orang bisa.

Jika suatu saat kami mendaftarkan film ini pada Lembaga Sensor Film, dan LSF menyatakan film ini tidak boleh diputar dan beredar di Indonesia, kira-kira apa yang akan dilakukan oleh orang Indonesia? Apakah anda selalu menggantungkan harapan dan jaminan kelangsungan hidup anda pada pihak-pihak ini?

Rakyat Indonesia, secara umum, telah menjadi masyarakat yang patuh di bawah teror rezim penguasa selama hampir setengah abad. Pertanyaannya, sebetulnya, mau berapa lama lagi anda membiarkan rakyat Indonesia–dan diri anda sendiri–untuk terus patuh dan tunduk?

 

Bayu: Tentu skema peredaran Jagal tidak boleh berhenti bukan?! Aku pikir banyak pihak juga akan mendukung hak masyarakat untuk bisa mengakses dan menonton film ini.

Joshua: Iya. Ada festival film di Indonesia yang sudah memastikan untuk memutar film ini. Pemutarannya, sama dengan pemutaran selama ini, tanpa publikasi dan hanya untuk undangan. Tentu saya tidak akan bilang festival yang mana, kapan, dan di mana. Yang bisa saya katakan, setidaknya sudah ada 23 venues di setidaknya 5 kota yang sudah menyatakan niatnya memutar film Jagal dalam waktu dekat ini.

Distribusi film yang kami lakukan adalah dengan mengandalkan inisiatif masyarakat. Kami bekerjasama dengan banyak pihak yang berminat mengadakan pemutaran, entah itu kalangan aktivis HAM, dari lembaga pendidikan atau penelitian, kalangan seniman, mahasiswa, dan terus memperluas jaringan. Pertama-tama kami ingin membuat sebanyak-banyaknya pemutaran, agar orang-orang berkumpul, bertemu, berkenalan, bertatap muka, berdiskusi, ngobrol, sukur kalau sampai tumbuh rasa kebersamaan, solidaritas, serta berjaringan dan mulai menggambar peta jalan keluar bersama.

“Tentu saya tidak akan bilang festival yang mana, kapan, dan di mana. Yang bisa saya katakan, setidaknya sudah ada 23 venues di setidaknya 5 kota yang sudah menyatakan niatnya memutar film Jagal dalam waktu dekat ini.”

Dalam pengamatan kami, menonton film Jagal bersama-sama dalam kelompok akan memberi kesan dan dampak yang lebih mendalam kepada penontonnya daripada kalau film itu ditonton sendiri-sendiri. Penonton bisa merasakan kehadiran orang lain, dan melihat film itu juga dari mata orang lain. Penonton bisa saling meminjam perasaan satu sama lain, walaupun pada akhirnya harus dikembalikan pada saat pertunjukan berakhir. Perasaan manusia bisa menular.

Itu yang kami harapkan dengan pertama kali mencoba menyebarkan film ini lewat sebanyak-banyaknya pemutaran film terlebih dahulu, sebelum masuk ke persebaran DVD atau sistem distribusi yang lainnya. Kami bukan hanya ingin film ini ditonton sebanyak-banyaknya orang Indonesia, tapi kami juga ingin film ini menjadi ruang bagi sebuah pertemuan.

Bahwa suatu hari Jagal, atau film apapun dari belahan dunia manapun, bisa didapatkan di lapak DVD bajakan atau diunduh secara bebas dari internet melalui torrent atau entah apalagi, percayalah itu sebuah keniscayaan. Tinggal menunggu waktu saja.* Bayu Bergas / Komunitasfilm.org